SANTRI MENGABDI
Saat santri sudah berhasil dalam mondoknya, maka pulangnya membawa amanah besar. Mau tidak mau ia harus tampil di bawah lingkungan masyarakat secara langsung. Faktanya, banyak dari mereka yang kurang percaya diri. Sehingga, tidak mau nimbrung atau bergabung di lingkungan masyarakat. Sikap seperti ini haruslah kita hindari. Kita harus mampu menjadi santri sejati. Hanya percaya diri dengan jati diri kita sendiri sebagai santri. Bagaimana caranya? Pastinya, dengan sangat bersungguh-sungguh dalam belajar. Baik dalam hal kajian ilmu agama murni tanpa campuran atau ilmu modern. Kita tidak boleh berat sebelah. Maksudnya, mementingkan salah satu saja atau meremehkan salah satu di antara sisa.Kedua ilmu ini sangat dibutuhkan di zaman yang serba instan ini, di mana arus globalisasi yang berjalan sangat cepat.
Ketika seorang santri terjun di lingkungan masyarakat, ternyata masih terasa canggung dan bingung. Lingkungan masyarakat sendiri memang tidak sama dengan lingkungan pesantren. Maka, wajar sekali jika santri membutuhkan adaptasi. Saat adaptasi inilah, kesempatan santri untuk membaca situasi lingkungan. Yakni dengan cara belajar dan melakukan belajar awal. Dengan begitu, ia akan mampu memahami masyarakat itu sendiri. Ditentukan, menentukan cara yang paling tepat untuk memulai pengabdiannya atas ilmu yang telah diperoleh.
Seperti yang telah dibuktikan bersama masyarakat yang dapat dikatakan santri adalah sosok yang serba bisa. Hampir setiap acara di lingkungan, terlebih dahulu yang bersinggungan dengan agama, pasti melibatkan peran santri. Tidak jarang, mereka diberi amanah untuk menjadi pembawa acara, pemimpin musyawarah, ketua pelaksana, pemimpin doa atau bahkan menjadi qori'. Nah, hal seperti ini kadang tidak terlintas di benak santri. Benar bukan?
Berarti, santri tidak langsung dituntut multitalenta. Sebagian besar dari mereka yang puas itu tidak menjual dalam bidang tersebut. Keputusan, hal ini tidak layak dijadikan alasan. Lupakan masalah bakat!. Bakat itu muncul kompilasi kita mau tekun dalam menggeluti sesuatu.
Jadi, mari kita beralih kembali ke kita. Dari mulai minder karena tidak dapat menjadi keinginan untuk belajar dan bisa. Masalah yang diperlukan tidak ada yang penting. Yang terpenting adalah kita menjalankan amanah yang diberikan kepada kita dengan baik. Sungguh begitu?
Seorang santri juga dijadikan rujukan setiap masalah di lingkungan masyarakat. Penting dalam masalah fikih. Mereka yakin santri mampu menjadi narasumber yang baik, khusus pada masalah yang berkenaan dengan agama. Lagi-lagi merespon menghadang. Mau tidak mau, santri harus siap dan bijak berhasil setiap hal yang dipermasalahkan. Jangan sampai masalah tersebut sebaliknya menjadi masalah baru bagi kita. Tentunya, bukan lucu bukan?
Dalam arti kita sendiri bingung bagaimana mengatasinya. Dari banyak fakta yang terjadi, terlihat sekali peran santri dalam masyarakat sangat jelas terlihat. Santri benar-benar menjadi tumpuan harapan umat. Terlebih, Kondisi akidah masyarakat saat ini semakin luntur. Sedang menciptakan moral muda yang kian waktu kian terkikis. Jika santri hanya diam melihat fenomena seperti ini, masih layakkah ia disebut sebagai santri?
Pernahkan Anda membaca suatu pengajaran, Dunia ini membangkitkan saat orang yang berpengetahuan hanya diam, sedang orang bodoh membaca, ” sekali lagi. Namun, para santri tidak demikian. Mereka akan sepenuh hati mengabdikan diri pada masyarakat. Dengan bekal ilmu yang didapat di pesantren.
Sekarang, telah kita ketahui bersama. Santri tengah ditunggu hadirnya di tengah masyarakat. Hal ini jangan pernah dibuat beban. Tapi, jadikanlah motivasi dan motivasi. Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Jangan hanya ngopi dan tidur-tiduran. Manfaatkan waktu belajar di pondok dengan sebaik-baiknya. Tentunya, semua pasti sudah tau bagaimana mungkin waktu. Al waqtu kassaif , waktu bagaikan pedang. Saat kita tidak menggunakan, maka pedang itu bisa melukai diri kita sendiri. Jadi, persiapkan semuanya dari sekarang. Dapatkan harapan yang tidak mengecewakan. Katakan pada dirimu, “Santri selalu siap mengabdi.”
* Penulis: Suswari, santri Jabal Hikmah

Ningsih
Santri selalu siap mengabdi di masyarakat