MEMERGOKI CACAT SANG RAJA
Sumber : 30 Kisah Teladan, Oleh KH. Abdurrohman Arroisi
Iskandar Zulkarnain yang agung dari Makedonia adalah raja yang gagah perkasa dan keras wataknya. Ia paling benci kepada sifat-sifat pengecut. Namun, ia juga suka bertimbang rasa jika melihat kejujuran yang bersih.
Rakyat tidak ada yang tahu bahwa Raja mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun, kecuali permaisurinya. Sebab, rahasia itu akan membuat cacat jika diketahui oleh orang lain. Kepala Raja ditumbuhi sepasang tanduk seperti sapi. Itulah sebabnya, julukannya adalah Zulkarnain, artinya yang punya dua tanduk.
Pada suatu hari, ketika sedang berburu di hutan terpencil, Raja Iskandar terpisah dari para punggawanya. Ia memang sengaja mencari tempat sepi kerena rambutnya gatal dan ia ingin membuka mahkotanya. Agar tidak diketahui bahwa kepalanya bertanduk, maka ia menghindar sendirian tanpa pengawal.
Pada waktu membuka mahkotanya dan sedang asik menggaruk kepalanya yang gatal, seorang pencari kayu lewat disitu dan memergoki rajanya tanpa mahkota.
Tukang kayu itu terbelalak kaget, melihat Raja yang gagah itu seperti sapi dengan sepasang tanduk dikepalanya. Tukang kayu itu sampai terpekik heran.
Raja tersadar dari keasikannya. Alangkah terperanjat dan marahnya Raja melihat ada tukang kayu sedang memandangi tanduk di kepalanya. Segera tukang kayu itu diperintahkan menghadap.
Dengan wajah garang Raja menghardik, “apa yang kau lihat?”.
“saya………saya melihat………..tuanku bertanduk………..”, jawab tukang kayu itu ketakutan. Ia udah tahu hukuman apa yang bakal ditimpakan atas dirinya. Namun, ia tidak berbohong untuk mengatakan tidak melihat tanduk di kepala Raja sebab ia selalu jujur sepanjang hidupnya, betapapun pahit akibat kejujuran itu.
“hem, berarti engkau telah mengetahui cacat rajamu. Hanya engkau yang tahu. Para menteriku juga tidak. Jika engkau kubiarkan hidup, pasti cacatku ini akan tersebar kemana-mana. Jadi terpaksa engkau harus ku pancung sekarang juga, agar yang kau lihat tadi terbawa lenyap ke liang kubur”.
“Ampun, Tuanku, hamba tidak sengaja”, ratap si tukang kayu teringat akan nasib anak-anaknya yang masih kecil. Mereka bakal terlunta-lunta jika ia mati.
Itu bukan urusanku. Rupanya memang ajalmu harus datang hari ini, disini, oleh tanganku”, jawab Raja Tegar.
“tuanku, anak-anak saya masih kecil. Ibu mereka sudah meninggal dunia. Kalau hamba tuanku bunuh, bagaimana nasib mereka?” tangis si tukang kayu.
Raja merenung. Ia terkesan akan kejujuran tukang kayu ini. Munkin ia bisa dipercaya kalau diberi syarat tidak membukakan rahasia tanduk itu kepada orang lain.
“baiklah, engkau ku beri kesempatan untuk hidup. Dengan syarat jangan sampai kau ceritakan kepada siapapun juga, termasuk kepada anak-anakmu. Kalau sampai bocor berita ini, engkau dan seluruh keluargamu akan kuhabisi. Janji?”
“terima kasih, Tuanku. Saya berjanji,” sembah tukang kayu itu.
Lalu ia pun diizinkan pergi dengan selamat. Betapa gembiranya tukang kayu itu, nyawanya tidak jadi terbang. Namun, setiba dirumah, mulutnya terasa menuntut untuk menceritakan rahasia ajaib itu kepada orang lain. Hatinya mendesak-desak lidahnya untuk membuka keanehan Rajanya kepada tetangganya. Tetapi, karena ia sudah berjanji dan janji harus ditepati, apalagi ancamannya begitu menakutkan, maka ditahannya keinginan itu sedapat munkin.
Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyimpan rahasia itu. Namun, sebagai manusia, ia tidak kuat. Terpaksa,agar jangan melanggar janji menceritakan kepada orang lain, ia pun pergi ke tengah-tengah hutan dan membuka isi hatinya tentang rahasia itu kepada sebatang kayu besar yang tumbuh ditempat gelap.
“hai kayu, Raja Iskandar punya tanduk besar di kepalanya.”
Legalah perasaannya setelah membukakan rahasia Rajanya kepada kayu, dengan keyakinan tidak ada orang lain disitu. Memang tidak ada manusia di tempat itu kecuali dirinya. Akan tetapi, ada seekor burung beo di ranting pohon. Burung beo itu meniru ucapan si tukang kayu, persis sekali. Lalu, burung tersebut terbang ke pasar di kota Raja. Disana ia mengulang-ulang ucapan si tukang kayu, “hai kayu, Raja Iskandar punya tanduk di kepalanya.”
Maka gegerlah penduduk yang mendengar ucapan burung beo itu. Berita tersebar ke mana-mana bahwa Raja punya tanduk di kepalanya. Murkalah Raja. Siapa lagi biang keladinya kalau bukan si tukang kayu.
Lantas Raja memerintahkan untuk menangkap tukang kayu durjana tersebut, sebagai pesakitan yang dirantai tangan dan kakinya.
“Hai, tukang kayu. Engakau memang tidak tahu membalas budi. Engkau sudah berjanji tidak akan membuka cacatku kepada siapapun juga. Malah sekarang seluruh rakyatku tahu bahwa aku punya tanduk. Untuk itu engkau dan anak-anakmu terpaksa dijatuhi hukuman mati”.
Dengan ketakutan tukang kayu itu membantah, “demi Tuhan,Tuanku. Saya tidak pernah bercerita kepada seorang manusia manapun.”
“Lalu, dari mana masyarakat tahu bahwa aku punya tanduk?”
“saya tidak mengerti, tuanku. Saya mengaku, memang saya ingin bercerita, tetapi saya tahan. Karena tidak kuat, maka saya pergi ketengah hutan rimba. Di tempat sepi yang tidak munkin ada manusia, saya bercerita kepada sebuah pohon besar bahwa Raja punya tanduk. Kebetulan waktu itu hanya ada seekor burung beo yang bertengger diranting. Saya baru menyadarinya setelah saya selesai bercerita kepada kayu itu. Apakah barangkali burung beo itu yang punya ulah, Tuanku?.”
Raja, selaku seorang pemimpin yang bijaksana walaupun keras sifat dan wataknya, ingin tahu apakah orang ini tidak berdusta. Ditanyakan kepada sebagian masyarakat yang mendengar berita itu, dari mana mereka tahu cacat Raja. Ternyata betul, memang dari seekor burung beo yang terbang kesana kemari sambil mengoceh: “Hai kayu, Raja Iskandar punya tanduk di kepalanya”.
Lantaran terbukti tukang kayu itu jujur dan Raja suka kepada kejujuran, maka tukang kayu itu dibebaskan dari segala hukuman, bahkan diangkat menjadi pegawai kerajaan yang dipercaya.
Sumber : 30 Kisah Teladan, Oleh KH. Abdurrohman Arroisi

Facebook Comments